JEMBRANA – Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Jembrana terus memperkuat kapasitas kehumasan, peliputan, dokumentasi, serta pengelolaan informasi publik sebagai bagian dari upaya mendekatkan lembaga pengawas pemilu dengan masyarakat. Penguatan tersebut dibahas dalam agenda evaluasi dan peningkatan kapasitas internal bertajuk “Pengelolaan Kehumasan, Peliputan & Dokumentasi serta Informasi Publik” yang digelar di Kantor Bawaslu Kabupaten Jembrana, Rabu (26/8/2026).
Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Bawaslu Kabupaten Jembrana dan dihadiri Kepala Bagian Pengawasan dan Hubungan Masyarakat Bawaslu Provinsi Bali serta Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi. Agenda ini menjadi bagian dari langkah strategis untuk mengevaluasi pengelolaan komunikasi publik sekaligus memperkuat penyampaian informasi mengenai pengawasan pemilu kepada masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, Bawaslu Jembrana menyoroti masih adanya tantangan dalam membangun kedekatan komunikasi dengan publik. Keberadaan dan peran Bawaslu di tengah masyarakat dinilai belum sepenuhnya dipahami secara luas, khususnya terkait tugas, kewenangan, serta peran lembaga dalam melakukan pengawasan terhadap setiap tahapan pemilu.
Keterbatasan pemahaman masyarakat terhadap regulasi pemilu menjadi perhatian penting. Kurangnya pengetahuan mengenai hal-hal yang diperbolehkan maupun yang dilarang dalam tahapan pemilu berpotensi menimbulkan pelanggaran di tingkat masyarakat. Karena itu, edukasi publik dinilai menjadi salah satu langkah pencegahan yang perlu terus diperkuat.
Media Sosial Didorong Menjadi Ruang Edukasi
Untuk menjawab tantangan tersebut, Bawaslu Jembrana mendorong transformasi pengelolaan media sosial. Media sosial tidak hanya dimanfaatkan sebagai sarana publikasi kegiatan kelembagaan, tetapi juga diarahkan menjadi ruang edukasi publik yang mampu menyampaikan informasi pengawasan pemilu secara sederhana, menarik, dan mudah dipahami.
Pemanfaatan konten video singkat seperti Reels Instagram serta berbagai konten visual interaktif menjadi salah satu strategi yang dikembangkan. Materi terkait regulasi dan pengawasan pemilu dikemas dengan pendekatan yang lebih santai dan mengikuti perkembangan tren media sosial, sehingga diharapkan mampu menjangkau masyarakat dari berbagai kelompok usia, khususnya generasi muda.
Kolaborasi Jadi Strategi Atasi Keterbatasan
Dalam evaluasi tersebut, Bawaslu Jembrana juga mengakui masih adanya keterbatasan sumber daya manusia maupun sarana pendukung dalam pengelolaan dokumentasi dan publikasi. Kemampuan fotografi, videografi, hingga penulisan berita belum sepenuhnya merata. Sementara itu, kegiatan peliputan di lapangan masih didukung dengan sarana yang terbatas, seperti telepon pintar dan kamera pendukung.
Kondisi tersebut tidak menjadi penghalang untuk meningkatkan kualitas publikasi. Bawaslu Jembrana mendorong strategi kolaborasi lintas sektor, salah satunya dengan membuka ruang kerja sama bersama komunitas fotografi di Jembrana dan Dinas Komunikasi dan Informatika. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memberikan masukan, kritik konstruktif, serta peningkatan kemampuan teknis dalam menghasilkan dokumentasi yang lebih menarik, bercerita, dan memiliki nilai estetika.
Selain itu, keterlibatan pelajar SMA dalam pembuatan konten interaktif juga menjadi salah satu strategi untuk menjangkau generasi muda. Pendekatan tersebut dinilai memberikan dampak positif terhadap jangkauan media sosial Bawaslu Jembrana. Konten yang sebelumnya hanya menjangkau sekitar 900 penonton dapat meningkat hingga mencapai ribuan penonton pada sejumlah konten.
Partisipasi Masyarakat Terus Didorong
Tidak hanya melalui media sosial, Bawaslu Jembrana juga terus mengevaluasi efektivitas kanal aspirasi dan pengawasan partisipatif masyarakat. Sejumlah kanal komunikasi, seperti Hotline WhatsApp dan pesan langsung atau Direct Message (DM) Instagram, tetap dipantau secara aktif setiap hari.
Meski demikian, hasil evaluasi menunjukkan bahwa partisipasi mandiri masyarakat dalam menyampaikan laporan dugaan pelanggaran secara langsung masih relatif rendah. Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus bahan evaluasi untuk terus meningkatkan kepercayaan dan keberanian masyarakat dalam berpartisipasi melakukan pengawasan pemilu.
Melalui penguatan kehumasan, peliputan, dokumentasi, serta keterbukaan informasi publik, Bawaslu Jembrana berkomitmen untuk terus membangun komunikasi yang lebih terbuka dengan masyarakat. Upaya tersebut diharapkan mampu meruntuhkan sekat informasi, meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap regulasi pemilu, serta mendorong semakin kuatnya pengawasan partisipatif.
Dengan komunikasi publik yang lebih edukatif, kreatif, dan kolaboratif, Bawaslu Jembrana ingin memastikan masyarakat tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga menjadi bagian aktif dalam mewujudkan pengawasan pemilu yang inklusif, transparan, dan berintegritas.