JEMBRANA – Pemerintah Kabupaten Jembrana terus memperkuat komitmen dalam melestarikan tradisi, seni, dan budaya lokal sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif masyarakat. Komitmen tersebut tercermin dalam laporan kinerja dan kesiapan pelaksanaan berbagai agenda strategis kebudayaan dan pariwisata yang disampaikan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Jembrana pada Apel Koordinasi, Senin (12/10/2026), di depan Kantor Bupati Jembrana.
Apel koordinasi kali ini dipimpin langsung oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jembrana, Anak Agung Komang Sapta Negara. Dalam kesempatan tersebut, Disparbud memaparkan pelaksanaan program kerja yang mencakup 9 program, 18 kegiatan, dan 41 subkegiatan. Seluruh program tersebut diarahkan untuk mendukung pencapaian visi dan misi Bupati Jembrana, khususnya dalam penguatan tradisi serta pemberdayaan ekonomi kreatif masyarakat.
Salah satu capaian yang menjadi perhatian adalah keberhasilan pelaksanaan program tradisi keagamaan masyarakat yang melampaui target awal. Program Ngaben Masal yang semula ditargetkan melibatkan 70 sawa, berhasil menjangkau partisipasi masyarakat hingga 108 sawa.
Sementara itu, program Metatah Masal berhasil melayani 200 peserta, melampaui target awal sebanyak 150 peserta. Pelaksanaannya mencakup rangkaian prosesi, mulai dari mepetik, ruwatan, maler, hingga ngemayu. Capaian tersebut menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat terhadap program pelestarian tradisi yang difasilitasi pemerintah daerah.
Selain itu, pelaksanaan Parade Budaya juga memperoleh apresiasi dan antusiasme yang tinggi dari masyarakat. Berbagai kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan tradisi sekaligus memperkuat identitas budaya khas Jembrana.
Siapkan Tiga Agenda Besar Pariwisata dan Budaya
Memasuki penghujung tahun 2026, Pemkab Jembrana melalui Disparbud telah menyiapkan sejumlah agenda strategis untuk memperkuat daya tarik pariwisata daerah sekaligus memberikan ruang bagi pelaku seni dan ekonomi kreatif.
Agenda pertama adalah Jembrana Creative Festival yang dijadwalkan berlangsung pada 31 Oktober hingga 1 November 2026 di kawasan Taman Kota. Kegiatan selama dua hari ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda dan Hari Ekonomi Kreatif Nasional, serta telah mendapatkan persetujuan langsung dari Bupati Jembrana.
Selanjutnya, Mekepung Lampit dijadwalkan berlangsung pada 15 November 2026. Atraksi budaya khas Jembrana ini menjadi bagian penting dalam rangkaian kegiatan Mekepung Darat yang secara rutin digelar setiap dua minggu sekali di kawasan barat dan timur Jembrana.
Sementara itu, Festival Jegog direncanakan berlangsung pada akhir November 2026 dengan dukungan alokasi Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Provinsi Bali sebesar Rp2,5 miliar. Alokasi tersebut telah mendapatkan persetujuan dari Bappeda dan BPKAD.
Ketiga agenda tersebut diharapkan mampu memperkuat pelestarian seni dan budaya lokal, meningkatkan kunjungan wisatawan, serta membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha kreatif dan masyarakat setempat.
Fasilitasi Hibah Kebudayaan Rp5 Miliar
Dalam upaya mendukung keberlangsungan aktivitas seni dan budaya, Disparbud Jembrana juga memfasilitasi 150 calon penerima hibah kebudayaan pada perubahan anggaran tahun 2026 dengan total anggaran sekitar Rp5 miliar.
Seluruh calon penerima telah melalui tahapan verifikasi administrasi dan verifikasi faktual di lapangan. Tahapan berikutnya meliputi pemrosesan Surat Keputusan (SK) serta Naskah Perjanjian Hibah Daerah (NPHD), dengan estimasi pencairan bantuan pada akhir November hingga awal Desember 2026.
Fasilitasi hibah ini diharapkan dapat mendukung keberlangsungan kegiatan seni dan budaya, memperkuat peran kelompok seni di masyarakat, serta mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga warisan tradisi daerah.
Dua Warisan Budaya Jembrana Ditetapkan sebagai WBTb Indonesia
Tidak hanya melalui kegiatan dan dukungan anggaran, komitmen pelestarian budaya juga diwujudkan melalui upaya perlindungan dan pengakuan resmi terhadap warisan budaya daerah.
Dalam kurun waktu empat tahun terakhir, Pemkab Jembrana telah berhasil mendaftarkan 12 Warisan Budaya Takbenda (WBTb). Pada tahun 2026, Jembrana kembali memperoleh penetapan dua WBTb baru dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, yakni Anjungan Mrebubu/Mreyog dan Bahasa Melayu Loloan.
Sertifikat resmi penetapan kedua warisan budaya tersebut dijadwalkan diterima pada agenda penyerahan oleh Kementerian Kebudayaan RI pada akhir tahun 2026.
Penetapan ini menjadi langkah penting dalam memperkuat pengakuan terhadap kekayaan budaya Jembrana sekaligus mendukung upaya pelindungan, pelestarian, dan pewarisan budaya kepada generasi mendatang.
Melalui berbagai program dan agenda tersebut, Pemerintah Kabupaten Jembrana menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak hanya berkaitan dengan menjaga tradisi, tetapi juga memiliki potensi besar untuk mendukung pengembangan pariwisata dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dengan sinergi antara pemerintah daerah, pelaku seni, komunitas budaya, dan masyarakat, Jembrana diharapkan mampu terus menjaga kekayaan warisan leluhur sekaligus mengembangkan potensi budaya sebagai kekuatan pembangunan daerah.