Jembrana – Sebuah pementasan drama gong bertajuk Calonarang Yeh Kuning dengan lakon “Tunjung Ireng” sukses digelar pada Sabtu malam, 30 Agustus 2025 di Stage Arda Candra Pura Jagatnatha. Drama ini mengangkat kisah kepahlawanan, intrik perebutan kekuasaan, hingga perjuangan merebut kembali kejayaan kerajaan melalui pusaka sakti berupa keris hitam bernama Tunjung Ireng.
Kisah bermula dari ambisi Kerajaan Tingga Raja yang hendak memperluas wilayah kekuasaannya. Dengan strategi licik Patih Agung Teja Murka yang menggunakan ilmu hitam desti peneluh penerangjana, Kerajaan Shindhu Raja akhirnya berhasil ditaklukkan. Raja dan Ratu Shindhu Raja dipenjara, sementara sang putra, Raden Bagus Semarajaya, mendapat amanat untuk mencari pusaka Tunjung Ireng.
Perjalanan Raden Semarajaya membawanya ke Puri Widyapura, tempat ia mendapat penjelasan bahwa Tunjung Ireng adalah keris sakti berwarna hitam. Di sana pula ia dijodohkan dengan putri Raja Widyapura, Widya Kencana Dewi. Dengan keteguhan hati, Raden Semarajaya akhirnya berhasil memperoleh pusaka tersebut dan merebut kembali kejayaan kerajaannya.
Pementasan drama yang sarat makna perjuangan dan nilai budaya ini disaksikan langsung oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Jembrana Drs. I Made Budiasa, M.Si, Ketua DPRD Kabupaten Jembrana Ni Made Sri Sutharmi, S.E, Forkopimda Kabupaten Jembrana, Ketua TP PKK Kabupaten Jembrana Ny. Ani Kembang Hartawan, Ketua GOW Kabupaten Jembrana Ny. Inda Patriana Krisna, para Kepala OPD di lingkungan Pemkab Jembrana, serta undangan lainnya.
Gelaran drama gong ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana pelestarian seni budaya tradisional Bali, sekaligus pengingat tentang nilai-nilai moral dalam menjaga kebenaran dan keadilan.